Yogen & Yensi

​“Aku ingin menjadi ruang tamu di hatimu,” katamu.
Tempat di mana ketukan pintu selalu disambut hangat,
dan teh hangat selalu disajikan tepat waktu.
​Lalu ia menjawab,
“Dan aku ingin menjadi atapnya,
yang menahan terik dan gigil angin,
agar tidurmu senantiasa lelap.”
​Maka menikahlah kalian,
bukan sebagai dua orang yang asing,
tetapi sebagai dua kalimat pendek
yang akhirnya dipisahkan oleh tanda koma—
bukan titik.
Sebab perjalanan baru saja dimulai,
di sebuah rumah yang pintunya tidak pernah dikunci,
di mana rindu selalu punya jalan untuk pulang,
ketika dunia di luar sana sedang riuh-riuhnya.